
Leuwilaja-sabtu 3 Mei 2025 Pondok Pesantren Mursyidul Falaah menggelar acara Tasyakur Khotmil Qur’an. Prosesi Tasyakur Khotmil Qur’an kali ini ikuti oleh 255 khotimin dan khotimat, dengan rincian:
✓3 Khotimin 30 juz bil-Hifdzi
✓4 khotimat 30 juz bil-Hifdzi
✓22 khotimin bin-Nadzri
✓48 khotimat bin-Nadzri
✓86 khotimin juz 30 bil-Hifdzi
✓92 khotimat juz 30 bil-Hifdzi.
Acara berlangsung khidmat
Acara ini dihadiri oleh para masyaikh, asatiz, para santri wali santri, serta tamu undangan dari berbagai kalangan.
Acara dibuka dengan pembacaan Al-Fatihah dan dilanjutkan dengan sambutan dari pembawa acara yang mengucapkan selamat datang kepada semua hadirin. Acara ini juga disiarkan secara langsung melalui channel YouTube Pondok Pesantren Mursyidul Falah.
Setelah pembukaan, para hadirin bersama-sama membaca surah Al-Fatihah. Kemudian, khatimin dan khatimat dipersilakan menuju mimbar tilawah untuk melanjutkan acara, diiringi dengan selawat Qur’aniah yang dibawakan oleh grup Hadrah Syaquul Mustofa.
Bupati Majalengka yang diwakili oleh Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat, Bapak H. Asep Zaki Mulyatno, S.KM., M.KM., juga memberikan sambutan, mengapresiasi peran pondok pesantren dalam mencerdaskan anak bangsa.
Bapak KH. Muhammad Mahfudz Harir dalam mau’idhohnya mengatakanTasyakur khatmil Qur’an telah menjadi tradisi orang-orang saleh sejak dahulu kala. Sahabat Anas bin Malik RA merupakan sosok yang pertama kali mengadakan khatmil Qur’an. Beliau senantiasa mengumpulkan keluarganya, istri, anak-anak, dan cucu-cucunya setiap kali mengkhatamkan Al-Qur’an. Tujuan dari tindakan tersebut adalah untuk bersama-sama mengamini doa khatmil Qur’an, yang mana doa setelah mengkhatamkan Al-Qur’an merupakan salah satu doa yang mustajab.
Menurut guru beliau, K. Sya’roni, ketika doa khatmil Qur’an dipanjatkan, selain mengamini doa para khatimin dan khatimat, setiap individu juga dapat menyampaikan hajatnya dalam hati. Insya Allah dengan keberkahan khatmil Qur’an, segala hajat kita akan diijabah oleh Allah SWT.
Selain kisah Sahabat Anas bin Malik RA, terdapat pula sahabat lain yang sangat gemar menghadiri acara khatmil Qur’an meskipun tidak diundang, yaitu Sahabat Abdullah bin Abbas RA. Beliau adalah seorang qari’ yang ahli dalam membaca Al-Qur’an, bahkan mendapat julukan Tarjumanul Qur’an (penerjemah Al-Qur’an) dan Habrul Ummah (ulama besar umat Nabi Muhammad SAW). Meskipun demikian, Sahabat Ibnu Abbas RA tetap memiliki keinginan yang besar untuk mengamini doa khatmil Qur’an sebanyak mungkin. Beliau bahkan memiliki seorang pegawai khusus yang bertugas memantau orang-orang yang ahli tadarus Al-Qur’an di masjid-masjid dekat kediamannya. Pegawai tersebut diperintahkan untuk memberitahukan beliau apabila ada seseorang yang hendak mengkhatamkan Al-Qur’an dan telah mencapai Surah Ad-Duha atau Surah An-Naba’, agar beliau dapat hadir dan mengamini doanya. Demikianlah kesungguhan Sahabat Abdullah bin Abbas RA dalam membaca Al-Qur’an dan keinginannya untuk mengamini doa-doa khatmil Qur’an sebanyak-banyaknya. Oleh karena itu, jika kita diundang menghadiri acara Khotmil Qur’an dan enggan datang, sungguh kita patut merasa malu kepada Sahabat Abdullah bin Abbas RA.
Beliau juga mengatakan para santri Mursyidul Falaah membaca Al-Qur’an dengan baik, sesuai dengan kaidah tajwid dan tartil. Hal ini tentu memerlukan kerja keras dan keseriusan dari para pengajar maupun para santri. Kita menyadari bahwa jarak Indonesia sangat jauh dari Arab, dan dialek bahasa pun beragam. Seperti yang kita dengar tadi, beberapa penutur bahasa Sunda mungkin mengalami kesulitan dalam melafalkan huruf “fa”. Namun, dengan kesungguhan dalam mempelajari Al-Qur’an, semua orang dapat melakukannya. Inilah kehebatan Al-Qur’an. Dahulu, Sahabat Jabir bin Abdullah RA memiliki halaqoh-halaqoh pengajian Al-Qur’an yang santrinya berasal dari berbagai kalangan, termasuk orang-orang pelosok desa dengan keterbatasan dalam pelafalan (wafiina a’robiyun) bahkan orang-orang dari luar negeri (wafina a’jamiyun) seperti dari Afrika, Persia, dan Romawi. Suatu ketika, Rasulullah SAW datang ke majelis Jabir bin Abdullah RA dan meminta beberapa santri dari berbagai latar belakang tersebut untuk membaca Al-Qur’an. Setelah mereka semua selesai membaca, Rasulullah SAW bersabda, “Kullun hasanun” (Semuanya baik). Kemudian, Nabi SAW melanjutkan bahwa pada saat itu pengajian Al-Qur’an masih dilakukan dengan sungguh-sungguh, namun akan datang suatu zaman yang sulit di mana orang-orang asing membaca Al-Qur’an dengan tergesa-gesa, ingin cepat selesai dan segera khatam tanpa memperhatikan kualitas bacaan yang benar dan tartil. Fenomena ini banyak terjadi pada zaman sekarang, di mana orang-orang belajar Al-Qur’an dengan tujuan cepat khatam untuk mendapatkan sertifikat yang dapat digunakan untuk mencari beasiswa dan lain-lain.
Namun, alhamdulillah, meskipun terdapat tren seperti itu, para santri Mursyidul Falaah masih belajar Al-Qur’an dengan cara yang tradisional, yaitu mengutamakan kualitas dan kebenaran bacaan meskipun membutuhkan waktu yang cukup lama. Tadi disebutkan ada santri yang khatam dalam waktu lima tahun, enam tahun, bahkan tujuh tahun. Menurut saya, hal tersebut tidak menjadi masalah, justru saya merasa bangga. Santri yang khatam dalam waktu lama seharusnya merasa bangga, jangan berkecil hati. Khatam Al-Qur’an dalam tujuh tahun berarti telah lama berteman dengan Al-Qur’an. Khatam Al-Qur’an dalam lima tahun berarti telah lama bergaul dengan Al-Qur’an. Janganlah berkecil hati. Terdapat huffazh dan hafidzoh yang membutuhkan waktu lama untuk mengkhatamkan Al-Qur’an. Di pondok pesantren saya, justru anak-anak kiai lah yang biasanya membutuhkan waktu lama untuk khatam, bahkan ada yang tujuh tahun, sembilan tahun, hingga lima belas tahun. Hal ini bertujuan agar para wali santri memahami bahwa yang dibutuhkan untuk menghafal Al-Qur’an bukanlah kepintaran atau IQ yang tinggi. Menurut ayah saya, kecerdasan berada di urutan ke-27 dalam hal menghafal Al-Qur’an. Yang terpenting adalah ketekunan dan istiqamah. Tekun berarti senantiasa meluangkan waktu untuk mengaji, bisa atau tidak bisa, waktu mengaji tetap ajeg. Saya sendiri juga alhamdulillah bifadlillah khatam Al-Qur’an berkat keberkahan istiqamahnya ayah saya, bukan istiqamah saya sendiri. Ayah saya, Allah yarham Kiai Harir, pokoknya jam ngaji itu harus ngaji di manan saja, pasti ada yang mencari saya bawa pulang masukan kamar ngaji sampe bisa itu sehari empat kali itu seperti itu bapak alhamdulillah bisa khatam. Beliau melakukan hal tersebut sehari empat kali. Alhamdulillah, berkat didikan beliau, uga masih berani halaqohan sama pak Dayat yang salah dodok berani saya.
Putra-putri kiai biasanya cerdas dan pintar, namun terkadang kurang tekun. Mereka bisa maju tiga halaman atau dua halaman sekaligus dengan cepat, namun setelah itu tidak mengaji selama seminggu karena suatu hal yang tidak diketahui. Inilah yang menyebabkan waktu khatam mereka menjadi lama. Saya sendiri maju satu ayat demi satu ayat sejak awal, bahkan hingga khatam, saya tidak pernah mengaji satu halaman atau satu lembar penuh dalam satu waktu. Paling banyak setengah halaman agar tertancap di dalam hati. Lebih baik sedikit namun melekat kuat daripada banyak namun cepat hilang. Jika khatam dengan cepat, biasanya juga cepat lupa. Namun, jika dilakukan perlahan-lahan, bekas Al-Qur’an akan terasa dalam hati. Bergaul dengan Al-Qur’an setiap hari dan membacanya setiap hari akan meresap ke dalam hati. Para santri, janganlah berkecil hati jika membutuhkan waktu lama dalam menghafal Al-Qur’an.
Kemudian beliau menjelaskan bahwa Al-qur’an akan memberikan syafa’at pada hari kiamat bagi ashabul Qur’an
فإنه يأتى يوم القيامة شفيعا لأصحابه
“Sesungguhnya Al-Qur’an akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi ashabul-Qur’an”
Siapakah ashabul Qur’an? Yang dimaksud dengan ashab di sini adalah al-mulaazim, yaitu orang-orang yang hidupnya senantiasa ditemani Al-Qur’an, setiap hari selalu membaca Al-Qur’an. Namun, jika seseorang pernah khatam Al-Qur’an atau pernah hafal Al-Qur’an, tetapi setelah itu tidak pernah lagi memegang Al-Qur’an, maka ia bukanlah shahib (sahabat Al-Qur’an) melainkan hanya pernah bertemu dengannya.
Salah satu dari keutamaan Al-Qur’an juga adalah
“تيسير العسير”
memudahkan sesuatu yang sulit.
Beliua juga bercerita bahwa wiridan Kiai Munawwir Krapyak Yogyakarta adalah mengkhatamkan Al-Qur’an seminggu sekali selama tiga tahun, tiga hari sekali selama tiga tahun, satu hari sekali selama tiga tahun, minimal seminggu sekali.
Kemudian beliau berpesan meskipun sudah hafal, membaca Al-Qur’an harus tetap dengan melihat mushaf.
“اعطوا اعينكم حظها من العبادة وما حظها يا رسو ل الله, النظر فى المصحف”
(Berikanlah bagian ibadah kepada mata kalian. Apakah bagiannya itu, wahai Rasulullah? Melihat mushaf).
النظر الى المصحف يؤدي الى القلب
“dari mata turun kehati”
Hendaklah kita senantiasa patuh kepada guru, menyampaikan segala permasalahan kepadanya, karena gurulah yang lebih mengetahui mana yang baik, maslahat, dan madharat bagi kita.
Kemudian acara ditutup dengan pembacaan do’a oleh K. Abdul Latief Al-Hafidh.



