
Dalam perjalanan menuntut ilmu, seorang pencari kebenaran sering dihadapkan pada berbagai ujian batin, rasa cemas terhadap masa depan, kekhawatiran tentang kecukupan, dan pikiran-pikiran yang menumpuk tentang kebutuhan hidup sehari-hari. Ada kalanya ia gelisah memikirkan uang untuk biaya spp, sesekali risau memikirkan keluarga yang ditinggalkan, atau bahkan terganggu oleh urusan-urusan kecil seperti pekerjaan sampingan yang belum selesai, tagihan yang menunggu, dan berbagai keperluan yang terus datang. Hiruk-pikuk urusan dunia ini perlahan menyita perhatiannya sehingga ketenangan hati menjadi sulit dijaga.
Padahal, cahaya ilmu hanya bisa masuk ke hati yang tenang dan bersandar kepada Allah. Karena itu, para ulama selalu mengingatkan bahwa kekuatan seorang penuntut ilmu bukan hanya pada kecerdasannya, tetapi juga pada keteguhan hatinya dalam menyerahkan urusan dunia kepada Sang Pemberi rezeki.
Hal ini telah diingatkan oleh syakh Tajuddin Nu’man bin ibrahim bin khalil az-zarnuji dalam karyanya yang berjudul Ta’lim al-muta’alim:
ثم لا بد لطالب العلم من التوكل فى طالب العلم ولا يهتم لأمر الرزق ولا يشغل قلبه بذلك
“Kemudian, seorang penuntut ilmu harus bertawakkal dalam menuntut ilmu, dan tidak mengkhawatirkan urusan rezekinya serta tidak menyibukkan hatinya dengan hal itu[1].”
Prinsip tawakkal ini bukan sekadar ajaran moral, tetapi memiliki dasar kuat dalam khazanah keilmuan Islam. Para ulama menempatkan ketenangan hati sebagai prasyarat penting bagi tercapainya pemahaman yang mendalam dan kematangan akhlak. Oleh sebab itu, banyak riwayat yang menegaskan bahwa keterikatan berlebihan pada urusan materi dapat menghambat perkembangan intelektual maupun spiritual seorang penuntut ilmu.
Sejalan dengan hal tersebut, Seperti yang telah di riwayat kan oleh abu hanifah:
روى أبو حنيفة رحمه الله عن عبد الله بن الحسن الزبيدى صاحب رسل الله صلى الله عليه و سلم: من تفقه فى دين الله كفاه الله تعالى همه ورزقه من حيث لا يحتسب فإن من شغل قلبه بالرزق من القوت والكسوة قلما يتفرغ لتحصيل مكارم الأخلاق ومعالى الأمور
Artinya; “Abu Hanifah rahimahullah meriwayatkan dari ‘Abdullah bin al-Hasan az-Zubaidī, sahabat Rasulullah ﷺ: Barang siapa mendalami agama Allah, niscaya Allah Ta‘ala akan mencukupkan segala kegelisahannya dan memberinya rezeki dari arah yang tidak ia sangka. Sebab, siapa yang memenuhi hatinya dengan pikiran tentang rezeki — berupa makanan atau pakaian — maka ia akan sulit meluangkan diri untuk memperoleh akhlak-akhlak mulia dan perkara-perkara yang tinggi.”
Riwayat tersebut menegaskan bahwa pendalaman ilmu agama tidak hanya menuntut kecerdasan, tetapi juga ketenangan batin dan tawakkal yang benar. Ketika seseorang bersungguh-sungguh memahami agama, Allah akan mencukupi kebutuhannya sehingga hatinya tidak tersibukkan oleh kecemasan duniawi. Kekhawatiran terhadap rezeki justru menghalangi seseorang dari kemajuan moral dan intelektual, karena hati yang gelisah kehilangan kelapangan untuk menyerap nilai-nilai luhur dan sulit mencapai kematangan akhlak.
Para ulama memandang bahwa kegelisahan duniawi bukan hanya merusak spiritualitas, tetapi juga melemahkan konsentrasi, ketajaman nalar, dan orientasi hidup. Oleh sebab itu, setiap manusia harus mengisi dirinya dengan amal kebaikan agar tidak dikuasai hawa nafsu, dan tidak layak terlalu mengkhawatirkan urusan dunia karena kecemasan dan kesedihan tidak dapat menolak takdir serta justru merusak hati dan amal.
Sebaliknya, orientasi kepada akhirat memberikan manfaat nyata berupa ketenangan spiritual, kejernihan tujuan, dan arah hidup yang lebih terjaga. Maka, memindahkan fokus dari kecemasan dunia kepada urusan akhirat merupakan pilihan paling rasional bagi penuntut ilmu dan setiap orang yang ingin mencapai keluhuran akhlak serta keberkahan hidup.
Penulis:Aanwar al-Gufran
[1] Az-Zarnūjī, Ta’līmu al-muta’allim Thariqah at-Ta’allum, (Beirut: Nurul Iman, t.t.), hlm. 34



