
Niat merupakan aspek yang sangat krusial, sesuatu yang harus diperhatikan secara serius karena menjadi syarat diterimanya setiap amal. Niat juga merupakan inti dari semua amal ibadah. Dalam sabdanya, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyatakan:
…إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ…(رواه البخاري)
“sahnya amal adalah dengan niat.” (HR. al-Bukhori)
Banyak amal dunia yang kita lakukan bisa bertransformasi menjadi amal akhirat berkat niat yang tulus dan baik. Sebaliknya, tak jarang amal akhirat yang seharusnya mulia justru terdegradasi menjadi amal dunia karena niat yang buruk. Mengenai hal tersebut Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
كم من عمل يتصور بصورة أعمال الدنيا ويصير بحسن النية من أعمال الأخرة، وكم من عمل يتصور بصورة أعمال الأخرة ثم يصير من أعمال الدنيا بسوء النية
“Betapa banyak aktivitas menyangkut urusan dunia namun lantaran niat yang baik, berubah menjadi aktivitas yang bernilai akhirat. Sebaliknya, betapa banyak aktivitas keagamaan kemudian menjadi aktivitas duniawi belaka lantaran niat yang buruk.”
Seorang pelajar dalam proses pencarian ilmu harus memiliki niat yang tulus demi memperoleh ridha Allah Ta’ala. Niat tersebut seharusnya diarahkan untuk mencapai kebahagiaan di akhirat, mengatasi kebodohan baik dalam diri individu maupun di kalangan masyarakat, serta berkontribusi dalam pengembangan dan pelestarian ajaran agama Islam. Hal ini disebabkan oleh fakta bahwa keberlangsungan dan kemajuan suatu agama sangat bergantung pada penguasaan ilmu pengetahuan yang mendalam oleh para pemeluknya. Selain itu, seorang pelajar juga perlu menanamkan niat untuk mensyukuri nikmat akal dan kesehatan yang diberikan, sebagai bagian dari tanggung jawab moral dan spiritual dalam proses pembelajaran.
Seorang pelajar seharusnya menghindari motivasi untuk menuntut ilmu dengan tujuan memperoleh kehormatan di tengah masyarakat, mengumpulkan harta duniawi, atau meraih penghormatan dari para pejabat. Hal ini telah diingatkan oleh Syekh Tajuddin Nu’man bin Ibrahim bin Khalil az-Zarnuji dalam karyanya yang berjudul Ta’lim al-Muta’alim:
ولا ينوى به إقبال الناس عليه، ولا استجلاب حطام الدنيا، والكرامة عند السلطان وغيره
“Jangan sampai berniat dengan menuntut ilmu suapaya dihormati masyarakat, untuk mendapatkan harta dunia, atau mendapat kehormatan di hadapan pejabat atau lainnya”. ( az-Zarnuji, Ta’limu al-Muta’alim [Mesir: Mahmudah, tt] 5).
Syeh Imam Hamad bin Ibrahim bin Isma’il al-Shofar al-Anshori membacakan syi’ir kepada Abu Hanifah: “Siapa yang menuntut ilmu untuk akhhirat, tentu ia akan memperoleh anugrah kebenaran. Dan kerugian bagi orang yang menuntut ilmu hanya mencari kedudukan di masyarakat.” ( az-Zarnuji, Ta’limu al-Muta’alim [Mesir: Mahmudah, tt] 5).



