
Al-Qur’an adalah pedoman hidup utama bagi umat islam. Alquran adalah firman Allah yang turun kepada Nabi Muahammad SAW, melalui malaikat Jibril. Turunnya Alquran secara berangsur-angsur, dalam dua periode perjalanan hidup Rasulullah yaitu ketika di Mekkah dan di Madinah. Surat pertama yang turun adalah Al-‘Alaq, turun ketika di Gua Hira.
Salah satu fungsinya adalah untuk pemantapan hati (QS. Al-Furqan [25]: 32). Hal ini menandakan adanya pertimbangan tertentu atas kondisi penerima wahyu sekaligus menyesuaikan kultur peradaban Arab yang berkembang kala itu, yakni permasalahan dialek orang arab.
Mayoritas umat Islam sepakat bahwa pedoman pokok dalam penulisan al-Qur’an adalah menggunakan rasm utsmani. Surah-surah al-Qur’an disusun berdasarkan tartib al-mushaf, yang diawali al-Fatihah dan diakhiri al-Nas. Padahal, kronologi pewahyuan tidaklah tersusun sedemikian rupa, sebab al-Fatihah bukanlah wahyu yang pertama diturunkan melainkan surah al-Alaq. Namun mengapa pada saat ini urutan surat dalam Alquran dimulai dari surat Al-Fatihah, bukan Al-‘Alaq? Maka berikut alasannya:
Al Quran turun melalui dua tahap. Pertama, Al Quran diturunkan secara lengkap dari Lauhul Mahfuzh ke Baitul Izzah di langit dunia. Kedua, dari Baitul Izzah, Al Quran diturunkan kepada Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam secara bertahap dalam waktu 22 tahun lebih. Sebagian ulama menyebutkannya 22 tahun, 2 bulan, 22 hari.
Imam Ahmad, meriwayatkan bahwa setiap kali turun ayat, Rasulullah saw. memerintahkan para penulis wahyu, seraya bersabda “letakkan ayat ini setelah ayat ini di surat ini” (Musnad Imam Ahmad: Jilid:1, hal:57). Banyak riwayat yang menegaskan bahwa Rasulullah mengimami shalat, dengan membaca Al-Qur’an sebagaimana susunan ayat yang ada. Atas dasar ini ijma’ ulama menegaskan bahwa susunan ayat-ayat Al-Qur’an murni dari Allah tanpa campur tangan siapapun.
Rasulullah SAW sebagaimana riwayat Imam Bukhari – setiap tahun dua kali menyetor hafalan Al-Qur’an dari awal sampai akhir, kepada Malaikat Jibril. Setoran ini tentu secara berurutan sesuai dengan susunan yang ada. Ini juga diperkuat dengan ijma’ para sahabat dan kesepakatan jumhurul ulama (mayoritas ulama) terhadap susunan Al Qur’an ada sekarang adalah merupakan bukti yang menguatkan bahwa susunan surah-surah berdasarkan wahyu (Fadhailul Qur’an, libni katsir).
Urutan atau tertib ayat tersebut juga ditegaskan dengan ijma’ para ulama’. Imam As Suyuthi mengatakan: “Ijma’ dan nash-nash yang serupa menegaskan, tertib ayat-ayat itu adalah tauqifi, tanpa diragukan lagi”
Az Zarkasy dalam Al Burhan dan Abu Ja’far Ibnu Az Zubair dalam Munasabah juga menegaskan: “Tertib ayat-ayat di dalam surat-surat itu berdasarkan tauqifi dari Rasulullah dan atas perintah beliau, tanpa diperselisihkan kaum muslimin.” Jadi jika surat pertama dalam mushaf adalah Surat Al Fatihah dan surat terakhir adalah Surat An-Nas, demikianlah urutan Al Quran di lauhul mahfuzh.
Mengenai pengelompokan ayat dalam setiap surat sesuai dengan riwayat Imam Ahmad di atas tentu juga berdasakan wahyu. Bagitu juga nama-nama surah, semuanya sesuai dengan petunjuk wahyu. Demikian pula waqaf per ayat, tidak bisa diketahui kecuali melalui wahyu.
Adapun penentuan juz-juz Al-Qur’an yang tiga puluh jumlahnya, itu bukan dari Sahabat Utsman, karena mushaf utsmani (Al-Qur’an yang ditulis di zaman Utsman) tidak terdapat juz-juz tersebut. Melainkan dari para ulama, dengan maksud untuk mempermudah. Sekalipun dalam hal ini para ulama berbeda pendapat antara boleh dan tidak, namun kemudian dianggap boleh-boleh saja, selama tidak merusak susunan Al-Qur’an yang asli.
Kesimpulannya, Al-Qur’an diturunkan ke dunia melalui dua tahap: Tahap pertama, diturunkan sekaligus dari “lauhil mahfudz” ke “baitul izzah” di langit dunia sebagaimana susunan yang telah ditetapkan oleh Allah. Tahap kedua, diturunkan dari langit dunia kepada Rasulullah SAW, secara berangsur-angsur sesuai dengan sebab kejadiannya. Tetapi susunan ayat-ayat dalam Al-Qur’an yang ada sekarang, itu memang bukan menurut sejarah turunnya, melainkan atas dasar perintah Allah sama dengan susunan Al-Qur’an yang di “lauhil mahfudz”. Kemudian alasan kenapa urutan al-Qur’an tidak berdasarkan turunnya wahyu karena urutan ayat-ayat Al Quran di mushaf bersifat tauqifi, atas petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang sesuai dengan Al Quran di lauhul mahfudz. Tauqifi dimaksudkan sebagai istilah untuk menamai bahwa penulisan lafaz Alquran itu berasal dari ketetapan Rasulullah yang berdasarkan wahyu dari Allah, sedangkan ijtihadi adalah bersifat hasil dari ijtihad para sahabat.
Penulis : Alika Farihatul Maula



