
Langit malam pekat memeluk kota. seperti kanvas hitam yang menunggu goresan mimpi. Malam itu ada seorang lelaki yang hanyut dalam sebuah pemandangan yang tak pernah ia sangka.
Ia berdiri di tepi sebuah pemakaman, tanah sunyi yang biasa diselimuti keheningan. Namun, malam itu berbeda. Tiba-tiba, dari gundukan-gundukan tanah, muncul sosok-sosok. Mereka adalah para penghuni kubur, yang berdesakan keluar dari peristirahatan abadinya.
Mereka tidak tampak menyeramkan, justru terlihat sibuk dan penuh harap, bergerak cepat di antara nisan-nisan. Mata sang ahli ilmu membelalak takjub. Mereka terlihaat sedang memungut sesuatu.
Di tengah hiruk pikuk pemungutan itu, ada satu sosok yang berbeda. Seorang lelaki, dengan wajah tenang dan tatapan damai, hanya duduk, Ia bersandar pada nisannya, mengamati kerumunan tanpa sedikit pun keinginan untuk ikut berebut.
Penuh rasa ingin tahu yang tak tertahankan, lelaki tersebut mendekat. “Tuan,” bisiknya. “Apa yang mereka pungut itu?”
Lelaki tua itu menoleh. “Mereka sedang memungut hadiah yang dikirimkan oleh kaum muslimin,” jawabnya. “Pahala dari bacaan Al-Qur’an, sedekah, dan lantunan doa yang mereka kirimkan.”
“Lalu,” tanya laki-laki tersebut, menunjuk ke kerumunan yang masih sibuk, “mengapa Anda tidak ikut memungut? Bukankah Anda juga memerlukannya?”
“Aku tak perlu repot melakukan itu,” katanya dengan keyakinan yang mantap.
“Mengapa?”
Mata lelaki itu menerawang, seolah melihat menembus kegelapan. “Karena aku punya seorang putra. Setiap hari, dia mengkhatamkan Al-Qur’an dan menghadiahkan seluruh pahalanya padaku.”
“Di manakah ia?”
“Dia ada di pasar, ia seorang penjual roti,” jawabnya.
Kisah itu begitu nyata, begitu kuat, hingga laki-laki tersebut terbangun dengan jantung berdebar. Ia segera menunaikan shalat Subuh, dan tanpa membuang waktu, ia menuju pasar yang ditunjuk dalam mimpinya.
Di tengah hiruk pikuk pagi, ia menemukan sebuah kios roti yang sederhana. Di sana, seorang pemuda sibuk melayani pembeli. Namun, yang menarik perhatian adalah bibir pemuda itu yang tak pernah berhenti bergerak.
Ia mendekat dan bertanya, “Anak muda, apa yang kau baca di sela-sela kesibukanmu?”
Pemuda penjual roti itu tersenyum. “Saya membaca Al-Qur’an, Tuan. Dan setiap khatam, saya menghadiahkan pahalanya untuk almarhum ayah saya. Itu adalah bekal terindah yang bisa saya kirimkan padanya.”
Tahun-tahun berlalu, dan kisah penjual roti itu menjadi pengingat bagi sang ahli ilmu tentang nilai sebuah bakti yang tulus. Hingga suatu malam, mimpi yang sama kembali menyambanginya.
Ia kembali ke pemakaman itu. Para ahli kubur kembali keluar, memungut hadiah-hadiah yang dikirimkan kaum muslimin. Namun kali ini, hatinya terasa sesak.
Lelaki tua yang dulu hanya duduk bersandar, kini ikut berdesakan dengan yang lain. Ia membungkuk, memungut rezeki pahala seperti yang lainnya.
ia pun terbangun, diliputi firasat buruk.
Keesokan harinya, ia bergegas ke pasar. Ia mencari, bertanya, dan akhirnya menemukan kabar yang membenarkan firasatnya.
Pemuda penjual roti itu telah wafat[1].
Kisah itu memberikan pelajaran bahwa seorang anak yang saleh adalah investasi yang tak ternilai.
Orang tua akan mendapatkan pahala dari setiap amal sholeh yang dikerjakan oleh anaknya.
Hal tersebut telah dijleaskan dalam hadis Nabi SAW:
… قَالَ رسُولُ اللَّه صلى الله عليه وسلم: “إِذَا ماتَ ابْنُ آدَم انْقَطَع عَملُهُ إلَاّ مِنْ ثَلاثٍ: صَدقَةٍ جَاريَةٍ، أوْ عِلمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أوْ وَلدٍ صالحٍ يدْعُو لَهُ” رواهُ مسلمٌ.
“Rasulullah SAW bersabda: ketika anak Adam mati, maka terputuslah amalnya kecuali tiga, yaitu: shodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfa’at, dan anak yang sholeh yang selalu mendo’akannya”.HR. Muslim[2].
Maka perlu bagi setiap orang tua memberikan pendidikan agama kepada anak-anaknya supaya mereka menjadi aset investasi baginya.
[1] Abu Bakar Usman bin Muḥammad Syaṭa ad-Dimyaṭ, I’anatut Ṭalibin, Juz 2, hlm. 143
[2] Imām an-Nawawī, Riyāḍuṣ-Ṣāliḥīn min Kalāmi Sayyidil Mursalīn, hlm. 530.



