Dalam tradisi keilmuan Islam, keberkahan ilmu tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan akal atau ketekunan belajar, tetapi juga oleh kebersihan hati dan adab seorang pelajar terhadap ilmu itu sendiri. Para ulama mewariskan kepada kita sebuah warisan agung bahwa ilmu adalah cahaya, dan cahaya tidak akan singgah pada hati yang tidak menghormatinya. Karena itu, mereka menapaki jalan menuntut ilmu dengan penuh penghormatan baik kepada guru, lingkungan belajar, maupun kitab-kitab yang menjadi wadah turunnya hikmah. Sikap-sikap halus seperti kesucian ketika belajar, memuliakan kitab, hingga menjaga kebersihan tulisan, dipandang sebagai pintu spiritual yang membuka keberkahan pemahaman.
Hal ini telah diingatkan oleh syakh Tajuddin Nu’man bin ibrahim bin khalil az-zarnuji dalam karyanya yang berjudul Ta’lim al-muta’alim;
ومن تعظيم العلم: تعظيم الكتاب، فينبغى لطالب العلم أن لا يأخذ الكتاب إلا بطهارة.
“Termasuk bentuk memuliakan ilmu adalah memuliakan kitab. Karena itu, seorang penuntut ilmu seharusnya tidak mengambil atau menyentuh kitab kecuali dalam keadaan suci.[1]”
Dan diceritakan pula tentang Syaikh Syams al-A’immah al-Halawani raḥimahullāh—salah satu ulama besar yang dikenal ketekunannya—bahwa beliau menuturkan rahasia keberkahannya dalam menuntut ilmu. Beliau berkata:
قال: إنما نلت هذا العلم بالتعظيم، فإنى ما أخذت الكاغد إلا بالطهارة.
Beliau Berkata; “Sesungguhnya aku mendapatkan ilmu ini karena sikap pengagungan. Aku tidak pernah mengambil selembar kertas pun kecuali dalam keadaan suci.”[2]
Demikianlah para ulama dahulu memandang ilmu bukan sebagai kumpulan lembaran dan hafalan semata, tetapi sebagai cahaya Ilahi yang hanya akan menetap di hati yang dijaga kehormatannya. Mereka memahami bahwa kemuliaan ilmu menuntut kesungguhan, adab, dan kesucian lahir batin. Jika para pendahulu kita sampai mengulang pelajaran belasan kali dalam keadaan sakit sekalipun, dan tidak menyentuh kertas kecuali dengan wudu, maka itu semua menunjukkan betapa besar penghormatan yang mereka berikan kepada ilmu.
Seperti cerita Syaikh al-Imām Syams al-A’immah as-Sarakhsi pernah mengalami sakit perut pada suatu malam, namun beliau tetap mengulang pelajaran. Pada malam itu beliau berwudu sebanyak tujuh belas kali karena beliau tidak pernah mengulang pelajaran kecuali dalam keadaan suci. Sebab ilmu adalah cahaya, dan wudu adalah cahaya; maka bertambah kuatlah cahaya ilmu dengan cahaya wudu.
Salah satu bentuk adab dan penghormatan yang wajib dijaga oleh seorang penuntut ilmu adalah menjaga sikap terhadap kitab. Di antara adab tersebut adalah tidak menjulurkan kaki ke arah kitab, karena itu menunjukkan sikap tidak sopan dan tidak menghargai ilmu yang terkandung di dalamnya.
Selain itu, para ulama menganjurkan agar menempatkan kitab tafsir di posisi paling atas dibanding kitab-kitab lainnya. Hal ini dilakukan sebagai bentuk pengagungan terhadap al-Qur’an dan ilmu yang menjelaskan maknanya. Dengan meletakkannya di atas kitab lain, seorang penuntut ilmu menampakkan rasa hormatnya kepada kalam Allah dan para ulama yang telah menafsirkan firman-Nya.
Mereka juga memperingatkan agar tidak meletakkan barang apa pun di atas kitab, seperti pena, kertas, botol tinta, atau benda lainnya. Perbuatan semacam ini dipandang sebagai bentuk meremehkan kitab dan dapat menghilangkan keberkahan ilmu. Bahkan diceritakan sebagian ulama menegur orang yang meletakkan tinta di atas kitab dan berkata: “Ilmumu tidak akan bermanfaat.” Hal ini menunjukkan betapa seriusnya mereka menjaga adab terhadap kitab.
Hal ini telah diingatkan oleh syakh Tajuddin Nu’man bin ibrahim bin khalil az-zarnuji dalam karyanya yang berjudul Ta’lim al-muta’alim:
ومن التعظيم الواجب للعالم أن لا يمد الرجل إلى الكتاب ويضع كتب التفسير فوق سائر الكتب تعظيما ولا يضع على الكتاب شيئا آخر
“Dan termasuk bentuk penghormatan yang wajib terhadap ilmu adalah tidak menjulurkan kaki ke arah kitab, serta meletakkan kitab tafsir di atas semua kitab lainnya sebagai bentuk pengagungan, dan tidak meletakkan apa pun di atas kitab tersebut.[3]”
Penulis: Anwar al-gufran
[1] Az-Zarnūjī, Ta’līmu al-muta’allim Thariqah at-Ta’allum, (Beirut: Nurul Iman, t.t.), hlm. 18.
[2] Az-Zarnūjī, Ta’līmu al-muta’allim Thariqah at-Ta’allum, (Beirut: Nurul Iman, t.t.), hlm. 18.
[3] Az-Zarnūjī, Ta’līmu al-muta’allim Thariqah at-Ta’allum, (Beirut: Nurul Iman, t.t.), hlm. 18.



