
The Power Of Bismillah
Bismillah, begitulah kita menyebutnya sebuah kalimat yang begitu agung, memiliki makna yang sangat mendalam namun kebanyakan dari kita jarang yang mengetahuinya, sehingga kita terkadang lupa akan keberkahan yang kita dapatkan manakala kita selalu melibatkan bismillah dalam setiap lini kehidupan.
Lalu bagaimana makna bismillah yang sebenarnya menurut para ulama ?.
Betapa agung makna yang terkandung dalam lafadz bismillah menurut para ulama seperti yang disampaikan oleh Sayyid Bakri dalam kitab hasiyah I’anatut al-Tholobiin:
وروي أن الكتب المنزلة من السماء إلى الأرض مائة وأربعة، أنزل على شيث ستون، وعلى إبراهيم ثلاثون، وعلى موسى قبل التوراة عشرة، والتوراة والأنجيل والزبور والفرقان.وأن معاني كل الكتب مجموعة في القرآن، ومعانيه مجموعة في الفاتحة ولهذا سميت أم الكتاب ومعانيها مجموعة في البسملة، ومعانيها مجموعة في بائها، ومعناها: بي كان ما كان، وبي يكون ما يكون.
“Diriwayatkan bahwa seluruh kitab yang diturunkan dari langit (kutubus al-samawaat) ke bumi itu berjumlah 104 kitab, diturunkan kepada Nabi Syiit 60 Kitab, kepada Nabi Ibrahim 30 kitab, kepada Nabi Musa sebelum kitab Taurot sebanyak 10 kitab, dan Injil, Zabur, dan Al-Qur’an. Dan seluruh makna kitab tersebut dikumpulkan di dalam Al-Qur’an, kemudian seluruh makna Al-Qur’an dikumpulkan dalam surat Al-Fatihah sehingga surat ini disebut dengan ummul al-Kitab. Kemudian seluruh makna surat Al-Fatihah dikumpulkan dalam lafadz Bismillah. Dan seluruh ma’na Bismillah dikumpulkan di dalam ba-nya lafadz Bismillah dan maknanya adalah: “Oleh-Ku segala sesuatu yang diciptakan terjadi dan oleh-Ku segala sesuatu yang ada menjadi ada”.[1]
Lalu bagaimana hukum membaca Bismillah dalam pandangan fiqh ?
Menurut fiqh hukum membaca Bismilaah itu ada lima yaitu:
- Haram, pada perkara yang secara dzatiyah nya haram seperti meminum khomr (minuman memabukan)
- Makruh, pada perkara yang secara dzatiyah nya makruh seperti melihat alat kelamin istri sendiri
- Wajib, seperti di dalam sholat. Karena menurut madzab Syafi’i Bismillah termasuk salah satu ayat dalam surat Al-Fatihah
- Sunah, pada perkara yang menurut syara’ itu baik seperti hendak wudhu, mau makan, mau tidur dll.
- Mubah, pada perkara yang menurut syara’ tidak ada kemulyaan di dalamnya seperti memindahkan benda dari satu tempat ke tempat lain.
Hal ini sebagaimana yang disampaikan oleh Sayyid Bakri dalam kitab hasiyah I’anatut al-Tholobiin :
فيقال: البسملة مطلوبة في كل أمر ذي بال – أي حال – يهتم به شرعا، بحيث لا يكون محرما لذاته ولا مكروها كذلك، ولا من سفاسف الأمور – أي محقراتها – فتحرم على المحرم لذاته كالزنا، لا لعارض كالوضوء بماء مغصوب.وتكره على المكروه لذاته كالنظر لفرج زوجته، لا لعارض كأكل البصل. ولا تطلب على سفاسف الأمور، ككنس زبل، صونا لاسمه تعالى عن اقترانه بالمحقرات.والحاصل أنها تعتريها الأحكام الخمسة: الوجوب، كما في الصلاة عندنا معاشر الشافعية – والاستحباب عينا: كما في الوضوء والغسل، وكفاية: كما في أكل الجماعة، وكما في جماع الزوجين، فتكفي تسمية أحدهما – كما قال الشمس الرملى أنه الظاهر – والتحريم في المحرم الذاتي، والكراهة في المكروه الذاتي، والإباحة في المباحات التي لا شرف فيها، كنقل متاع من مكان إلى آخر، كذا قيل.[2]
Jika seperti itu sudah sepatutnya kita mengamalkan apa yang telah ditetapkan oleh syara’ agar hidup kita semakin berkah karena hal ini telah disampakan oleh Nabi Muhammad Saw dalam sabdanya :
Kemudian apa saja faidah-faidah membaca bismillah?
و من خواصها إذا تلا ها شخص عند النوم إحدى و عشرين مرة أمن تلك الليلة من الشيطان و أمن بيته من السرقة و أمن من موت الفجأة وغير ذلك من البلايا أفاده أحمد الصاوى
“sebagian dari khowaaish (ketentuan-ketentuan) bismillah adalah ketika seseorang membacanya saat mau tidur sebanyak dua puluh satu kali (21x) maka dia akan aman pada malam itu dari godaan syaithon, rumahnya aman dari maling, selamat dari meninggal secara kaget dan macam-macam musibah/balai yang lainnya sebagaimana yang disampaikan oleh Ahmad As-Showy”[3]
Masih banyak faidah-faidah bismilah yang terdapat dalam kitab-kitab ulama salafuna sholih kita. Bismillah dari sekarang kita awali setiap langkah kita dengan Bismillah ……!
———————————————————————————————————–
[1] Sayyid Bakri bin Sayyid Syatho ad-Dimyati, I’anatut al-Tholibin Ala Halil Alfaadzi Fathul al-Mu’iin, ( Maktabah As-Salam : 2017. Cet. 1. ) hlm. 5.
[2] Sayyid Bakri bin Sayyid Syatho ad-Dimyati, I’anatut al-Tholibin Ala Halil Alfaadzi Fathul al-Mu’iin, ( Maktabah As-Salam : 2017. Cet. 1. ) hlm. 4.
[3] Abi Abdul Muthy Muhammad Nawawi Al-Jawi, Kasyifatus al-Saja Ala Syarh Safinatun An-Najah, ( Surabaya: Darul Ilmi . Tanpa Tahun ) hlm. 3.



